Senin, 21 November 2011

Handout Fisika


Cube: ATOM, ION  DAN  MOLEKUL Handout                                                                                        Fisika                                                                                      

Cloud Callout: 3. Menjelaskan konsep partikel materi 








Bevel: 3.1 Menghubungkan konsep atom, ion, dan molekul dengan produk  kimia sehari – hari

 








Horizontal Scroll: Menunjukkan hubungan atom, ion dan molekul dalam kehidupan  sehari – hariLightning Bolt: Indikator







Flowchart: Multidocument: Materi Pembelajaran
 



A.  Hubungan antara atom, ion dan molekul
Pada pembahasan sebelumnya telah diketahui bagaiman konsep atom, ion dan molekul yang kesemuanya saling berkaitan sebagai salah satu contoh dalam hal ini produksi gula pasir.

Cloud Callout: Gambar 1 : Gula Pasir

Kita bayangkan bahwa satu sendok gula pasir tersusun dari butiran-butiran kecil gula. Jika satu sendok gula tersebut dilarutkan dalam air maka gula tersebut akan larut, partikel gula tersebar ke dalam air dengan ukuran yang sangat kecil sehingga tidak dapat disaring bahkan tidak dapat dilihat oleh mata. Meskipun berubah menjadi partikel yang ukurannya sangat kecil sifat gula tidak hilang. Partikel kecil dari gula masih mempunyai sifat sama denan gula pasir yang disebut molekul gula. Partikel terkecil penyusun materi dapat berbentuk atom, ion dan molekul. Adanya ion dalam air ditandai dengan menguji apakah air tersebut dapat menghantarkan arus listrik, yang ditandai oleh nyala lampu. Jika lampu menyala dan terdapat gelembung gas pada elektroda, maka air tersebut mengandung ion.

Oval Callout: Gambar 2 : Uji Elektrolit

Sehingga dapat kita simpulkan bahwa atom merupakan bagian terkecil dari suatu unsur, dan molekul merupakan partikel terkecil dari suatu senyawa yang tersusun dari dua atom atau lebih. Molekul yang tersusun dari atom-atom yang berbeda dinamakan molekul senyawa. Molekul yang tersusun dari atom-atom yang sama dinamakan molekul unsur. Sedangkan ion merupakan kumpulan atom-atom yang bermuatan listrik, ion dapat bermuatan positif (kation) dan bermuatan negatif (anion).
Rounded Rectangular Callout: Gambar 3: Jika natrium klorida dilarutkan dalam air akan terurai menjadi ion positif (ion natrium)
dan ion negatif (ion klorida)
B.  Materi tersusun atas atom, ion dan molekul
Pada dasarnya teori molekul dapat menjelaskan perubahan fisika, tetapi belum tentu dapat  menjelaskan  perubahan  kimia,  karena  itu  dikembangkan teori atom yang menyatakan bahwa segala zat terdiri dari partikel-partikel yang sangat kecil yang disebut atom. Pada tahun 1803, John Dalton seorang berkebangsaan Inggris mengajukan suatu teori yang menyatakan bahwa materi terdiri atas atom.

Notched Right Arrow: Gambar 4 : John Dalton
Teori atom Dalton dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.         Setiap materi tersusun atas partikel terkecil yang disebut atom 
2.         Atom tidak dapat dipecah lagi menjadi partikel yang lebih kecil dengan sifat yang sama
3.         Atom-atom dari unsur tertentu mempunyai sifat dan massa yang identik. Unsur-unsur   yang berbeda memiliki atom-atom yang massanya berbeda.
4.         Senyawa terbentuk dari dua macam atom atau lebih yang berbeda.
5.         Reaksi kimia merupakan penggabungan dan pemisahan atom-atom dari unsur atau   senyawa dalam reaksi tersebut.

Jadi suatu materi tersusun beberapa molekul, molekul tersusun dari beberapa atom yang sama atau berbeda-beda, sebagai contoh: Oksigen (O2 ) terdiri dari dua atom oksigen, molekul air (H2O ) terdiri dari dua atom hidrogen dan satu atom oksigen, Molekul asam sulfat ( H2SO4 ) tersusun dari dua atom hidrogen, satu atom belerang dan empat atom oksigen. 

Left Arrow: Gambar 5 : Bahan baku cairan pemutih

Demikian halnya dengan produk-produk kimia lainnya sebagai contoh: Produksi pupuk urea dengan komposis kimia NH2CONH2, pupuk NPK/pupuk majemuk dengan komposisi campuran NH4NO3, NH4 H2 PO3  dan  KCl . Asam Asetat  CH3 COOH  digunakan sebagai cuka makanan. Sukrosa  C11 22 O11  digunakan sebagai pemanis. Aspirin  C9 Ha O4  digunakan untuk mengurangi rasa sakit.

Diamond: Cuka
Bahan pengawet tradisional telah dikembangkan sejak ratusan tahun lalu, seperti garam dapur, gula, cuka, dan lada. Ikan laut biasa diawetkan dengan cara pengasinan. Buah-buahan diawetkan dengan cara dijadikan manisan. Makanan lauk-pauk bisa diawetkan dengan dibumbui lada dan cuka.
Dari rumus senyawa yang merupakan gabungan lambang unsur yang menunjukan jenis unsur pembentuk senyawa dan jumlah atom masing-masing unsur, misalnya sukrosa dengan rumus C12 H 22 O 11 rumus tersebut menunjukkan bahwa sukrosa tersusun dari 12 karbon, 22 hidrogen dan 11 oksigen.
Bahan kimia itu terdapat pada tiga golongan besar yakni bahan kimia rumah tangga (pembersih, pemutih, pewangi, dan pembasmi serangga), bahan kimia dalam bahan makanan (pewarna, pemanis, pengawet, dan penyedap), serta bahan kimia di bidang industri, pertanian, dan kesehatan (termasuk zat adiktif dan psikotropika).


Left-Right Arrow: Di dalam Jurnal IPA-mu,
tuliskan hasil identifikasimu
tentang kegunaan dan efek
samping dari semua bahan kimia
tersebut
 






.
Gambar 6 : Contoh makanan yang menggunakan
Pewarna

Left Arrow Callout: Gambar  7 : Tahu Kuning

Beberapa kelebihan pewarna sintetik antara lain, warnanya seragam, tajam, mengembalikan warna asli yang mungkin hilang selama proses pengolahan, melindungi zatzat vitamin yang peka terhadap cahaya selama penyimpanan, dan hanya diperlukan dalam jumlah sedikit. Seiring dengan meluasnya pemakaian pewarna sintetik, sering terjadi penyalahgunaan pewarna pada makanan. Sebagai contoh digunakannya pewarna tekstil untuk makanan sehingga membahayakan konsumen. Zat pewarna tekstil dan pewarna cat biasanya mengandung logam berat, seperti: arsen, timbal, dan raksa sehingga bersifat racun.



Flowchart: Multidocument:     Latihan
 




Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar!
1.      Sebutkan unsur pembentuk senyawa berikut  dan tentukan jumlah insur, atom dalam setiap   molekulnya:
a.       Soda kue  ( Na HCO3)
b.      Kafein ( C8  H10 N4 O2)
c.       Asam Cuka  ( C2 H2 O4)
2.      Jelaskan hubungan antara atom, ion dan molekul.
3.      Gula tersusun dari atom
4.      Larutan manakah yang mengandung ion
5.      Jelaskan apa yang dimaksud dengan :
                                  a.         Ion
                                 b.         Kation
                                  c.         Anion
                                 d.         Tuliskan masing-masing dua contoh kation dan anion

Pilihlah Ganda
1.      Zat yang di masukkan ke dalam air yang dapat menghilangkan kotoran adalah
a.       Detergen

Jawaban Ujian Tengah Semester mata kuliah Pengantar Pendidikan


1.   Salah Satu Sifat Hakikat Manusia Adalah Kemampuan Untuk Menyadari Dirinya Sendiri. Jelaskanlah Maksudnya Dan Bagaimana Penerapan Sifat Ini Dalam Pelaksanaan Pendidikan.
Jawab :
Kesadaran manusia akan diri sendiri merupakan perwujudan individu kualitas manusia. Kesadaran diri sendiri yang dimulai dengan kesadaran pribadi diantara segala kesadaran terhadap segala sesuatu.
Makin manusia sadar akan dirinya sendiri sesungguhnya manusia makin sadar akan kesemestaan, karena posisi manusia adalah bagian yang tak terpisahkan dari semesta. Antar hubungan dan interaksi pribadi itulah pula yang melahirkan konsekuensi-konsekuensi seperti hak azasi dan kewajiban, norma-norma moral, nilai-nilai sosial, bahkan juga nilai-nilai supernatural berfungsi untuk manusia.
Manusia adalah makhluk sosial sekaligus adalah juga makhluk individual.  Manusia bersifat individu maksudnya manusia bersifat seorang yang utuh, mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif, mampu mengatur dan mengontrol dirinya dan mampu menentukan nasibnya, individu yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk mewujudkan dirinya sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik untuk ditempati. Seorang manusia itu harus mengetahui dirinya sendiri dan harus mngetahui sifatnya.
Cara Penerapannya
Cara penerapan kepada anak didik sekarang ini pendidik harus menciptakan suasana pembelajaran yang memungkinkan terjalinnya interaksi dan interdependensi pendidik.minsalnya mengunakan metode diskusi yaitu dapat mendorong terciptanya suasana kebersamaan antar siswa.

2.   Tujuan Utama Pendidikan Adalah Untuk Mengembangkan 4 Dimensi Kemanusiaan. Jelaskanlah Bagaimana Pelaksanaan Pendidikan Yang Sesuai Dengan Pengembangan Keempat Dimensi Tersebut.
Jawab :
1.      Pengembangan Dimensi Keindividualan (Manusia sebagai Mahluk Individu)
        Pendidikan harus mengembangkan anak didik mampu menolong dirinya sendiri. Pestalozzi mengungkapkan hal ini dengan istilah/ucapan: Hilfe zur selbathilfe, yang artinya memberi pertolongan agar anak mampu menolong dirinya sendiri. Untuk dapat menolong dirinya sendiri, anak didik perlu mendapat berbagai pengalaman di dalam pengembangan konsep, prinsip, generasi, intelek, inisiatif, kreativitas, kehendak, emosi atau perasaan, tanggungjawab dan keterampilan. Dengan kata lain, anak didik harus mengalami perkembangan dalam kawasan kognitif, afektif dan psikomotor.
      Sebagai mahluk individu, manusia memerlukan pola tingkah laku yang bukan merupakan tindakan instingtif, dan hal-hal ini hanya bisa diperoleh melalui pendidikan dan proses belajar. Di atas telah dikatakan bahwa perwujudan manusia sebagai mahluk individu (pribadi) ini memerlukan berbagai macam pengalaman. Tidaklah dapat mencapai tujuan yang diinginkan, apabila pendidikan terutama hanya memberikan aspek kognitif (pengetahuan) saja sebagai yang sering dikenal dan diberikan oleh para pendidik pada umumnya selama ini. Pendidikan seperti ini disebut bersifat intelektualistik, karena hanya berhubungan dengan segi intelek saja. Pengembangan intelek memang diperlukan, namun tidak boleh melupakan pengembangan aspek-aspek lainnya sebagai yang telah disebutkan di atas.
2.   Pengembangan Dimensi Kesosialan (Manusia Sebagai Mahluk Sosial)
Disamping sebagai mahluk individu atau pribadi manusia juga sebagai mahluk sosial. Manusia adalah mahluk yang selalu berinteraksi dengan sesamanya. Manusia tidak dapat mencapai apa yang diinginkan secara seorang diri saja. Kehadiran manusia lain dihadapannya, bukan saja penting untuk mencapai tujuan hidupnya, tetapi juga merupakan sarana untuk pengembangan kepribadiannya. Hal ini ditunjukkan oleh adanya “manusia srigala” (wolgman), yaitu anak manusia yang berkembang menjadi “srigala “, karena dibesarkan oleh srigala, dan sama sekali tidak mau menerima kehadiran manusia lainnya. Ia menjadi bergaya hidup seperti srigala. Kehidupan sosial antara manusia yang satu dengan yang lainnya dimungkinkan tidak saja oleh kebutuhan pribadi seperti telah disebutkan di atas, tetapi juga karena adanya bahasa sebagai alat atau medium komunikasi.
Melalui pendidikan dapat dikembangkan suatu keadaan yang seimbang antara pengembangan aspek individual dan aspek sosial ini. Hal ini penting untuk pendidikan di Indonesia yang berfilsafah pancasila, yang menghendaki adanya perkembangan yang seimbang antara aspek individual dan aspek sosial tersebut.
3.   Pengembangan Dimensi Kesusilaan (Manusia Sebagai Mahluk Susila)
Hanya manusialah yang dapat menghayati norma-norma dalam kehidupannya sehingga manusia dapat menetapkan tingkah laku yang baik dan bersifat susila dan tingkah laku mana yang tidak baik dan bersifat tidak susila. Melalui pendidikan kita harus mampu menciptakan manusia susila dan harus mengusahakan anak-anak didik kita menjadi manusia pendukung norma, kaidah dan nilai-nilai susila dan sosial yang di junjung tinggi oleh masyarakatnya. Norma, nilai dan kaidah tersebut harus menjadi milik dan selalu di personifikasikan dalam setiap sepak terjang, dan tingkah laku tiap pribadi manusia.
4.   Pengembangan Dimensi Keberagamaan (Manusia Sebagai Mahluk Religius)
Eksistensi menusia manusia yang keempat adalah keberadaanya dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Kuasa.sebagai anggota masyarakat dan bangsa yang memiliki filsafat Pancasila kita dituntut untuk menghayati dan mengamalkan ajaran pancasila sebaik-baiknya. Sebagai anggota masyarakat yang dituntut untuk menghayati dan mengamalkan ajaran Pancasila, maka kepada masing-masing warga Negara dengan demikian juga dituntut untuk dapat melaksanakan hubungan dengan Tuhan sebaik-baiknya menurut keyakinan yang dianutnya masing-masing, serta untuk melaksanakan hubungan sebaik-baiknya dengan sesama manusia.


3.   Guru (Pendidikan) Merupakan Unsur Yang Sangat Penting Dan Strategis Dalam Bidang Pendidikan. Jelaskanlah Pandangan Saudara Dan Kaitannya Dengan Proses Dan Kondisi Pendidikan Saat Ini Dan Masa Datang.
Menurut saya guru sangat penting dalam membentuk kepribadian seseorang baik dalam mendidik maupun mengajar sebelum orang tua dirumah. Guru adalah posisi yang strategis bagi pemberdayaan dan pembelajaran suatu bangsa yang tidak mungkin digantikan oleh unsur manapun dalam kehidupan sebuah bangsa sejak dahulu. Semakin signifikannya keberadaan guru melaksanakan peran dan tugasnya semakin terjamin terciptanya kehandalan dan terbinanya kesiapan seseorang. Dengan kata lain potret manusia yang akan datang tercermin dari potret guru di masa sekarang dan gerak maju dinamika kehidupan sangat bergantung dari "citra" guru di tengah-tengah masyarakat.
Guru memiliki tugas yang beragam yang berimplementasi dalam bentuk pengabdian. Tugas tersebut meliputi bidang profesi, bidang kemanusiaan dan bidang kemasyarakatan. Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup dan kehidupan. Mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa. Tugas guru dalam bidang kemanusiaan adalah memposisikan dirinya sebagai orang tua ke dua. Dimana ia harus menarik simpati dan menjadi idola para siswanya. Adapun yang diberikan atau disampaikan guru hendaklah dapat memotivasi hidupnya terutama dalam belajar. Bila seorang guru berlaku kurang menarik, maka kegagalan awal akan tertanam dalam diri siswa.
Kaitannya Dengan Proses Pendidikan
Proses pendidikan merupakan kegiatan memobilisasi segenap komponen pendidikan oleh pendidik terarah kepada pencapaian tujuan pendidikan. Bagaimana proses pendidikan itu dilaksanakan sangat menentukan kualitas hasil pencapaian tujuan pendidikan. Kualitas proses pendidikan menggejala pada dua segi, yaitu kualitas komponen dan kualitas pengelolaannya. Kedua segi tersebut satu sama lain saling tergantung. Walaupun komponen-komponennya cukup baik, seperti tersedianya prasarana dan sarana serta biaya yang cukup, juga ditunjang dengan pengelolaan yang andal maka pencapaian tujuan tidak akan tercapai secara optimal. Demikian pula bila pengelolaan baik tetapi di dalam kondisi serba kekurangan, akan mengakibatkan hasil yang tidak optimal.
Pendidikan sebagai suatu proses pembentukan pribadi peserta didik dilaksanakan secara sistematis dan sistemik, dan sistematis.  Sebab, sebuah proses pendidikan berlangsung secara bertahap serta berkesinambungan (prosedural) dan sistemik karena berlangsung dalam situasi dankondisi di semua lingkungan baik keluarga, sekolah dan masyarakat. Oleh karena itu, tantangan yang harus dikerjakan dalam bidang pendidikan harus diupayakan terutama meningkatkan rendahnya mutu pendidikan di Indonesia pada setiap jenjang dan satuan pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah serta mendorong masyarakat untuk menyadari sepenuhnya bahwa pendidikan adalah kebutuhan mendasar bagi setiap hidup insani. Jika hal ini berhasil, maka pemerintah melalui kebijakan presiden secara bertahap akan dapat menuntaskan pendidikan untuk semua.
Kondisi Pendidikan Saat Ini dan Masa Datang
Paradigma pendidikan di Indonesia harus terus mengedepankan paradigma pendidikan yang baru, sebab paradigma pendidikan lama mengedepankan pendidikan sebagai kebutuhan dan hak dasar manusia, maka paradigma pendidikan yang modern sekarang ini (baru) mengedepankan pendidikan sebagai kebutuhan investasi masa depan seseorang untuk memperoleh kesejahtaraan hidup. 
Saat ini, dalam segi kurikulum salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah dengan memberlakukan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Yang paling penting dalam hal ini adalah faktor guru. Sebab secanggih apapun suatu kurikulum dan sehebat apapun sistem pendidikan, tanpa kualitas guru yang baik, maka semua itu tidak akan membuahkan hasil yang maksimal. Oleh karena itu, guru diharapkan memiliki kompetensi yang diperlukan untuk melaksanakan tugas dan fungsinya secara efektif dan efisien. Kompetensi merupakan salah satu kualifikasi guru yang terpenting. Bila kompetensi ini tidak ada pada diri seorang guru, maka ia tidak akan berkompeten dalam melakukan tugasnya dan hasilnya pun tidak akan optimal.
Melalui pendidikan masa depan bangsa, dapat dirancang sebaik mungkin dengan cara mempersiapkan SDM yang berkualitas. Dengan dasar ini kita harus berusaha untuk;  pertama, mewujudkan sistem dan iklim pendidikan nasional yang demokratis dan bermutu, guna memperteguh akhlak mulia, kreatif, inovatif, berwawasan kebangsaan, cerdas, sehat, berdisiplin, bertanggungjawab, berketerampilan serta menguasai IPTEK dalam rangka mengembangkan kualitas manusia Indonesia. Kedua,  meningkatkan kualitas lembaga pendidikan yang dikembangkan oleh berbagai pihak secara efektif dan efisien terutama dalam pengembangan IPTEK, seni dan budaya, sehingga membangkitkan semangat pro-aktif, kreatif, dan selalu kreatif dalam seluruh komponen bangsa. Ketiga, mengembangkan pendidikan yang memanusiakan manusia, pendidikan yang dapat mengembangkan harkat dan martabat manusia, dan mempersiapkan manusia menjadi khalifah. Keempat, dalam menyongsong berbagai kecenderungan yang aktual tidak ada alternatif lain selain perlu penataan kembali terhadap dunia pendidikan sejak pendidikan tingkat dasar.
4.   Arah Perkembangan Manusia Di Kemukakan Oleh 4 Aliran Konvensional. Jelaskanlah Pandangan Masing-Masing Keempat Aliran Tersebut Terhadap Pendidikan.
1.   ALIRAN EMPIRISME
Aliran atau teori ini dipelopori oleh John Locke seorang bangsa Inggris yang hidup pada abad 18 yang dilahirkan pada tahun 1632 dan meninggal dunia pada tahun 1704. sesuai dengan namanya aliran ini menganut paham yang berpendapat bahwa segala pengetahuan, keterampilan dan sikap manusia dalam perkembangannya ditentukan oeh pengalaman (empiri) nyata melalui alat inderanya, baik secara langsung berinteraksi dengan dunia luarnya maupun melalui proses pengolahan dalam diri dari apa yang didapatkan secara langsung. Jadi segala kecakapan dan pengetahuannya tergantung, terbentuk dan ditentukan oleh pengalaman. Sedangkan pengalaman di dapatkan dari lingkungan/dunia luar melalui indera, sehingga dapat dikatakan lingkunganlah yang membentuk perkembangan manusia atau anak didik. Lebih jelas dan tegas lagi bahwa hanya lingkunganlah yang mempengaruhi perkembnagan anak. John Locke mengatakan “Tak ada sesuatu dalam jiwa, yang sebelumnya tak ada dalam indera”. Ini berarti apa yang terjadi, apa yang mempengaruhi, apa yang membentuk perkembangan jiwa manusia adalah lingkungan melalui pintu gerbang inderannya yang berarati tidak ada yang terjadi dengan tiba-tiba tanpa melalui proses penginderaan. Aliran ini mengajarkan bahwa perkembangan yang diinginkan dari anak adalah tergantung dari pembiasaan pada diri anak anak menurut kebiasaan -kebiasaan yang berlaku di dalam lingkungannya.
2.   ALIRAN NATIVISME
Aliran ini dipelopori oleh seorang bangsa Jerman bernama Arthur Schopenhouse yang hidup pada abad 19, dilahirkan tahun 1788 dan meninggal dunia tahun 1860. teori ini merupakan kebalikan dari teori tabularasa, yang mengajarkan bahwa anak lahir sudah memiliki pembawaan sendiri-sendiri. Pembawaan yang hanya ditentukan oleh pembawaannya sendiri-sendiri. Pembawaanlah yang maha kuasa, yang menentukan perkembangan anak. Lingkungan sama sekali tidak bisa mempengaruhi, apalagi membentuk kepribadian anak. Jika pembawaan jahat akan menjadi jahat, jika pembawaannya baik akan menjadi baik. Walaupun bagaimana baiknya, kerasnya dan tertibnya usaha pendidikan/lingkungan.
Hasil pendidikannya akan tetap sebagaimana pembawaannya. Mungkin bisa terjadi selama dalam bantuan pendidikan dan pengawasan bisa baik, tetapi begitu sudah berdiri sendiri jika memang dasarnya jelek akan kembali sebagaimana dasarnya yang jelek itu. Jadi lingkungan sama sekali tidk bisa mempengaruhi terhadap perkembangan atau hasil pendidikan anak. Perkembangan ditentukan oleh faktor pembawaannya, yang berarti juga ditentukan oleh anak itu sendiri. Karena lingkungan atau pendidikan sama sekali tidk bisa mempengaruhi perkemebangan anak, dan potensi-potensi yang dimiliki bukannya hasil pendidikan melainkan memang potensi yang sudah ada di bawa sejak lahir, sehingga tidak ada kepercayaan nilai pendidikan dapat mempengaruhi, maka teori ini disebut juga dengan atau aliran pesimisme.

3.   ALIRAN NATURALISME
Aliran ini dipelopori oleh Jean Jaques Rousseau seorang Prancis yang hidup pada abad 18, dilahirkan pada tahun 1712 dan meninggal dunia pada tahun 1778. aliran ini ada persamaannya dengan teori nativisme, bahkan kadang-kadang disamakan. Padahal mempunyai perbedaan-perbedaan tertentu. Ajaran dalam teori ini mengatakan bahwa sejak lahir anak sudah memiliki pembawaan sendiri-sendiri baik bakat, minat, kemampuan, sifat, watak dan pembawaan-pembawaan lainnya. Pembawaan akan berkembang sesuai dengan lingkungan yang alami, bukan lingkungan yang dibuat-buat. Pembawaan yang dibawa anak hanya pembawaan yang baik saja, tidak sama dengan teori nativisme yang meliputi pembawaan baik dan buruk. Secara alami pembawaan itu akan berkembang sesuai dengan alamnya sendiri-sendiri secara baik, jika anak menjadi buruk maka lingkunganlah dalam pernyataan yang dikemukakan Rousseau : “Semua adalah baik dari tangan Pencipta, semua menjadi buruk di tangan manusia”.
Melihat pernyataan Rousseau dari uraian diatas bahwa sebetulnya lingkungan juga ikut mempengaruhi terhadap perkembangan anak. Tetapi tidak berpengaruh positif, melainkan hanya berpengaruh negatif saja, apabila lingkungan itu dibuat -dibuat, seperti lingkungan pendidikan.

4.   ALIRAN KONVERGENSI

Aliran ini dipelopori oleh William Stern, seorang Jerman yang hidup pada abad 20, dilahirkan pada tahun 1871 dan meninggal dunia pada tahun 1938. sesuai dengan namanya teori ini berusaha memadukan dua teori dimuka yang terlalu ekstrim dari pandangan yang berbeda, di satu sisi hanya mengakui lingkungan (empirisme ) yang menentukan perkembangan, sama sekali tidak mengakui adanya pembawaan, sedangkan disisi lain hanya mengakui pembawaan saja yang mempengaruhi perkembangan anak. Keduanya mengandung kebenaran dan keduanya mengandung ketidakbenaran. Faktor pembawaan dan faktor lingkungan sama - sama mempunyai peranan yang sangat penting, keduanya tidak dapat dipisahkan, sebagaimana teori nativisme, teori ini juga mengakui bahwa pembawaan yang dibawa anak sejak lahir juga meliputi pembawaan baik dan pembawaan buruk. Pembawaan yang di bawa anak sejak lahir tidak akan bisa berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai dengan pembawaan tersebut. Sebaliknya, sekalipun lingkungan yang bagaimana baiknya tidak akan menghasilkan perkembangan yang baik jika memang pada diri anak tidak ada pembawaan atau bakat seperti yang diharapkan akan dikembangkan.
Berdasarkan pandangan tersebut, William Stem menyimpulkan bahwa perkembangan anak tergantung dari pembawaan dan lingkungan, yang keduanya merupakan sebagaimana dua garis yang bertemu atau menuju pada satu titik yang disebut konvergensi. Istilah yang digunakan oleh Kihajar Dewantara adalah dasar sebagai pembawaan dan ajar sebagai lingkungannya, yang keduanya mempengaruhi terhadap perkembangan anak didik, sama-sama tidak bisa dipisahkan.

5.   Kemukakanlah Pandangan Saudara Tentang Konsep Pendidikan Yang Paling Mendasar Untuk Diterapkan Di Indonesia Sampai Saat Ini Yang Dikemukakan Oleh Ki Hajar Dewantara
Menurut Pandangan Saya, dalam berbagai sumber tulisan tentang pendidikan Ki Hadjar Dewantara, Pendidikan harus dimulai dari persamaan persepsi pemangku pendidikan tentang mendidik itu sendiri. Menurut Kihajar dewantara mendidik dalam arti yang sesungguhnya adalah proses memanusiakan manusia (humanisasi), yakni pengangkatan manusia ke taraf insani. Di dalam mendidik ada pembelajaran yang merupakan komunikasi eksistensi manusiawi yang otentik kepada manusia, untuk dimiliki, dilanjutkan dan disempurnakan. Jadi sesungguhnya pendidikan adalah usaha bangsa ini membawa manusia Indonesia keluar dari kebodohan, dengan membuka tabir aktual-transenden dari sifat alami manusia (humanis).
Menurut Ki Hajar Dewantara tujuan pendidikan adalah “penguasaan diri” sebab di sinilah pendidikan memanusiawikan manusia (humanisasi). Penguasaan diri merupakan langkah yang harus dituju untuk tercapainya pendidikan yang mamanusiawikan manusia. Ketika setiap peserta didik mampu menguasai dirinya, mereka akan mampu juga menentukan sikapnya. Dengan demikian akan tumbuh sikap yang mandiri dan dewasa. Dalam konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara ada 2 hal yang harus dibedakan yaitu sistem “Pengajaran” dan “Pendidikan” yang harus bersinergis satu sama lain.  Pengajaran bersifat memerdekakan manusia dari aspek hidup lahiriah (kemiskinan dan kebodohan). Sedangkan pendidikan lebih memerdekakan manusia dari aspek hidup batin (otonomi berpikir dan mengambil keputusan, martabat, mentalitas demokratik).
Menerjemahkan dari konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara tersebut, maka banyak pakar menyepakati bahwa pendidikan di Indonesia haruslah memiliki 3 Landasan filosofis, yaitu nasionalistik, universalistic dan spiritualistic. Nasionalistik maksudnya adalah budaya nasional, bangsa yang merdeka dan independen baik secara politis, ekonomis, maupun spiritual. Universal artinya berdasarkan pada hukum alam (natural law), segala sesuatu merupakan perwujudan dari kehendak Tuhan. Prinsip dasarnya adalah kemerdekaan, merdeka dari segala hambatan cinta, kebahagiaan, keadilan, dan kedamaian tumbuh dalam diri (hati) manusia.




6.   Jelaskanlah Pandangan Saudara Tentang Peranan Masyarakat Dalam Sistem Pendidikan Nasional Kita Saat Ini

Peran masyarakat dalam pendidikan nasional, terutama keterlibatan di dalam perencanaan hingga evaluasi masih dipandang sebagai sebuah kotak keterlibatan pasif. Inisiatif aktif masyarakat masih dipandang sebagai hal yang tidak dianggap penting. Padahal secara jelas di dalam pasal 8 UU No. 20/2003 disebutkan bahwa masyarakat berhak berperan serta dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi program pendidikan. Peran serta masyarakat saat ini hanyalah dalam bentuk Dewan Pendidikan dan Komite Sekolah, dimana proses pembentukan komite sekolahpun belum keseluruhannya dilakukan dengan proses yang terbuka dan partisipatif. Pembangunan pendidikan nasional Indonesia mendapat roh baru dalam pelaksanaannya sejak disahkannya Undang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan nasional. Beberapa indikator yang menjadi tolak ukur keberhasilan dalam pembangunan pendidikan diantaranya, sistem pendidikan yang efektif dan efesien, pendidikan nasional yang merata dan bermutu serta peran serta masyarakat dalam pendidikan.
Peranan masyarakat dalam pendidikan di harapakan agar :
ü  Di dalam masyarakat mempunyai peran edukatif baik yang dikembangkan maupun yang tidak dikembangkan
ü  Dalam masyarakat tersedia berbagai sumber belajar baik yang dirancang maupun yang dimanfaatkan.
ü  Berusaha mendidik anak didik dengan memanfaatkan sumber-sumber belajar yang tersedia dimasyarakatnya, dalam bekerja, dan bergaul.





Senin, 16 Mei 2011

CARA MENGGUNAKAN KURIKULUM DAN PERAN GURU DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM

Juni 2, 2008 pukul 1:30 am | Ditulis dalam Tak Berkategori | Tinggalkan komentar Kurikulum sangat penting bagi masyarakat karena masyarakat harus menyerap lulusan sekolah sebagai hasil kurikulum yang telah mereka jalani dan mutu masyarakat banyak bergantung pada mutu kurikulum.
Orang tua semua terlibatd alam baik buruknya kurikulum sekolah, karena nasib anak mereka, masa depannya, perkembangannya sebagai manusia banyak yang ditentukan oleh kurikulum pemerintah tentu sangat berkepentingan tentang mutu kurikulum, karena kurikulumlah alat yang paling ampuh untuk membina bangsa dan negara untuk mempertahankan eksistensinya dalam persaingan bangsa di dunia.
Kurikulum tak kurang pentinya dengan anak didik sendiri, karena menyakut nasib dirinya, masa depan, cita-citanya menjadi manusia.
Dalam makalah ini akan dibahas tentang cara menggunakan kurikulum serta peranan guru yang mempunyai peran sangat besar dalam penegmabngan kurikulum.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Cara Menggunakan Kurikulum
Uraian tentang cara menggunakan kurikulum disini adalah bagaimana siswa memperoleh pengalaman belajar untuk mencapai tujuan. Cara menggunakan kurikulum berkenaan dengan proses mencapai tujuan. Sedangkan proses itu sendiri bertalian dengan bagaimana pengalaman belajar atau isi kurikulum diorganisasi.
Organisasi kurikulum merupakan suatu cara menyusun bahan-bahan atau pengalaman belajar yang ingin dicapai. Setiap bentuk organisasi mewarnai jenis, bahan, urutan serta cara mempelajari.
Oleh sebab itu bentuk kurikulum dan organisasinya menekankan pada aspek tertentu, maka proses belajar untuk mempelajari bahan berbeda. Pembahasan tentang cara menggunakan kurikulum didasarkan pada organisasi kurikulum.
Kriteria pola organisasi kurikulum yang efektif menurut Tyler :
1. Berkesinambungan
Kesinambungan menunjukkan kepada pengulangan kembali unsur utama kurikulum secara vertikal.
2. Urutan bahan
Urutan mempunyai hubungan dengan kesinambungan dengan kriteria ini dimaksudkan bahwa isi kurikulum diorganisasi dengan cara mengurutkan bahan pelajaran sesuai tingkat kedalaman/keluasan yang dimiliki.
3. Keterpaduan bahan
Keterpaduan menunjukkan hubungan horizontal pengalaman belajar yang menjadi isi kurikulum organisasi. Pengalaman belajar dapat membantu siswa memperoleh pengalaman itu dalam satu kesatuan.
Contoh : menghitung Matermatika dapat diterapkan dalam mata pelajaran IPA, IPA, dan lain-lain. Jadi pengetahuan, keterampilan maupun sikap yang diperoleh dapat diterapkan dalam bebragai bidang.
B. Peranan Guru dalam Pengembangan Kurikulum
Guru adalah titik sentral suatu kurikulum berkat usaha guru, maka timbul kegairahan belajar siswa. Sehingga memacu belajar lebih keras untuk mencapai tujuan belajar mengajar yang bersumber dari tujuan kurikulum, untuk itu guru perlu memiliki ketrampilan belajar mengajar. Penguasaan ketrampilan tersebut bergantung pada bahan yang dimilikinya dan latihan keguruan yang telah dialaminya.
Keberhasilan belajar mengajar antar alain ditentukan oleh kemampuan kepribadiannya. Guru harus bersikap terbuka dan menyentuh kepribadian siswa. Guru perlu mengembnagkan gagasan secaa kreatif, memiliki hasrat dan keinginan serta wawasan intelektual yang luas. Guru harus yakin terhadap potensi belajar yang dimiliki oleh siswa.
Hal-hal yang perlu dikuasai guru; guru perlu memahami dan menguasai banyak hal agar pelaksanaan pengajaran berhasil, guru juga harus mau dan mampu menilai diri sendiri secara terus menerus dalam kaitannya dengan tingkat keberhasilan dan pelaksanaan pengajarannya. Guru harus menguasai bahan pengajaran sesuai jenjang kelas yang diajarnya, menguasai strategi pembelajaran yang berguna untuk menyampaikan pengetahuan kepada siswa dan guru juga harus menjadi suri tauladan bagi siswanya dan memberikan hal-hal yang bermakna bagi perkembangannya kelak.
Sedangkan Depdikbud (1980) telah merumuskan kemampuan yang harus dimiliki seorang guru, yaitu :
1. Kemampuan Profesional, yang mencakup :
a. Penguasaan materi pelajaran
b. Penguasaan landasan dan wawasan kependidikan
c. Penguasaan proses kependidikan, keguruan dan pembelajaran.
2. Kemampuan Ssoial
3. Kemampuan Personal
a. Penampilan sikap
b. Pemahaman, penghayatan dan penampilan nilai yang seyogyanya dimiliki guru.
c. Penampilan upaya menjadikan dirinya sebagai contoh bagi siswanya.
Pengembangan kurikulum dari segi pengelolaannya dibedakan antara yang bersifat sentralisasi dan desentralisasi.
1. Peranan guru dalam pengembangan kurikulum yang bersifat sentralisasi
Disini guru tidak mempunyai peranan dalam perancangan, dan evaluasi yang bersifat makro, mereka berperan dalam kurikulum mikro. Kurikulum makro disusun oleh tim khusus, guru menyusun kurikulum dalam jangka waktu 1 tahun, atau 1 semester. Menjadi tugas guru untuk menyusun dan merumuskan tujuan yang tepat memilih dan menyusun bahan pelajaran sesuai kebutuhan, minat dan tahap perkembangan anak, memiliki metode dan media mengajar yang bervariasi, kurikulum yang tersusun sistematis dan rinci akan memudahka guru dalam implementasinya.
2. Peranan guru dalam pengembangan kurikulum desentralisasi
Kurikulum desentralisasi disusun oleh sekolah ataupun kelompok sekolah tertentu dalam suatu wilayah. Pengembangan kurikulum ini didasarkan atas karakteristik, kebutuhan, perkembangan daerah serta kemampuan sekolah tersebut. Jadi kurikulum terutama isinya sangat beragam, tiap sekolah punya kurikulum sendiri. Peranan guru lebih besar daripada dikelola secara sentralisasi, guru-guru turut berpartisipasi, bukan hanya dalam penjabaran dalam program tahunan/semester/satuan pengajaran, tetapi did alam menyusun kurikulum yang menyeluruh untuk sekolahnya. Di dini guru juga bukan hanya berperan sebagai pengguna, tetapi perencana, pemikir, penyusun, pengembang dan juga pelaksana dan evaluator kurikulum.
BAB III
KESIMPULAN
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa cara menggunakan kurikulum/pola organisasi kurikulum yang efektif menurut Tyler ada 3, yaitu :
1. Berkesinambungan
2. Urutan bahan
3. Keterpaduan bahan
Kemudian perans seorang guru dalam pengembangan kurikulum cukup penting baik di dalam perencanaan maupun pelaksanaan kurikulum. Dia adalah perencana, pelaksana dan pengembang kurikulum itu sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
Hamalik, Dr. Oemar, 1992. Administrasi dan Supervisi Pengembangan Kurikulum. Bandung: Mandar Maju.
Syaodih, Nana, 2005. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Ali, Muhammad. Pengembangan Kurikulum di Sekolah. Bandung: Sinar Baru.

Peranan guru dalam kelas

⎠⎠⊰⓿⏝⓿⊱⎝⎝
 
 
PERAN GURU DALAM MEMBANGKITKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA
Oleh M. Sobry Sutikno




Pembelajaran efektif, bukan membuat Anda pusing, akan tetapi bagaimana tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan mudah dan menyenangkan. - M. Sobry Sutikno -



Motivasi berpangkal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada di dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan). Adapun menurut Mc. Donald, motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya "feeling" dan di dahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan oleh Mc. Donald ini mengandung tiga elemen/ciri pokok dalam motivasi itu, yakni motivasi itu mengawalinya terjadinya perubahan energi, ditandai dengan adanya feeling, dan dirangsang karena adanya tujuan.

Namun pada intinya bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.

Motivasi ada dua, yaitu motivasi Intrinsik dan motivasi ektrinsik.
• Motivasi Intrinsik. Jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dasar kemauan sendiri.
• Motivasi Ekstrinsik. Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar.

Bagi siswa yang selalu memperhatikan materi pelajaran yang diberikan, bukanlah masalah bagi guru. Karena di dalam diri siswa tersebut ada motivasi, yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadaran sendiri memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada disekitarnya, kurang dapat mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya.

Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Di sini tugas guru adalah membangkitkan motivasi peserta didik sehingga ia mau melakukan belajar.
Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, sebagai berikut:

1. Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik.
Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus yang akan dicapainya kepada siwa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar.

2. Hadiah
Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.

3. Saingan/kompetisi
Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.

4. Pujian
Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun.

5. Hukuman
Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.

6. Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar
Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik.

7. Membentuk kebiasaan belajar yang baik
8. Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok
9. Menggunakan metode yang bervariasi, dan
10. Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran


PENDIDIKAN DAN MASYARAKAT   
  1. PERANAN GURU DALAM PENDIDIKAN
TUGAS GURU

Daoed Yoesoef (1980) menyatakan bahwa seorang guru mempunyai tiga tugas pokok yaitu tugas profesional, tugas manusiawi, dan tugas kemasyarakatan (sivic mission). Jika dikaitkan pembahasan tentang kebudayaan, maka tugas pertama berkaitan dengar logika dan estetika, tugas kedua dan ketiga berkaitan dengan etika.

Tugas-tugas profesional dari seorang guru yaitu meneruskan atau transmisi ilmu pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai lain yang sejenis yang belum diketahui anak dan seharusnya diketahui oleh anak.

Tugas manusiawi adalah tugas-tugas membantu anak didik agar dapat memenuhi tugas-tugas utama dan manusia kelak dengan sebaik-baiknya. Tugas-tugas manusiawi itu adalah transformasi diri, identifikasi diri sendiri dan pengertian tentang diri sendiri.

Usaha membantu kearah ini seharusnya diberikan dalam rangka pengertian bahwa manusia hidup dalam satu unit organik dalam keseluruhan integralitasnya seperti yang telah digambarkan di atas. Hal ini berarti bahwa tugas pertama dan kedua harus dilaksanakan secara menyeluruh dan terpadu. Guru seharusnya dengan melalui pendidikan mampu membantu anak didik untuk mengembangkan daya berpikir atau penalaran sedemikian rupa sehingga mampu untuk turut serta secara kreatif dalam proses transformasi kebudayaan ke arah keadaban demi perbaikan hidupnya sendiri dan kehidupan seluruh masyarakat di mana dia hidup.

Tugas kemasyarakatan merupakan konsekuensi guru sebagai warga negara yang baik, turut mengemban dan melaksanakan apa-apa yang telah digariskan oleh bangsa dan negara lewat UUD 1945 dan GBHN.

Ketiga tugas guru itu harus dilaksanakan secara bersama-sama dalam kesatuan organis harmonis dan dinamis. Seorang guru tidak hanya mengajar di dalam kelas saja tetapi seorang guru harus mampu menjadi katalisator, motivator dan dinamisator pembangunan tempat di mana ia bertempat tinggal.

Ketiga tugas ini jika dipandang dari segi anak didik maka guru harus memberikan nilai-nilai yang berisi pengetahuan masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang, pilihan nilai hidup dan praktek-praktek komunikasi. Pengetahuan yang kita berikan kepada anak didik harus mampu membuat anak didik itu pada akhimya mampu memilih nilai-nilai hidup yang semakin komplek dan harus mampu membuat anak didik berkomunikasi dengan sesamanya di dalam masyarakat, oleh karena anak didik ini tidak akan hidup mengasingkan diri. Kita mengetahui cara manusia berkomunikasi dengan orang lain tidak hanya melalui bahasa tetapi dapat juga melalui gerak, berupa tari-tarian, melalui suara (lagu, nyanyian), dapat melalui warna dan garis-garis (lukisan-lukisan), melalui bentuk berupa ukiran, atau melalui simbul-simbul dan tanda tanda yang biasanya disebut rumus-rumus.

Jadi nilai-nilai yang diteruskan oleh guru atau tenaga kependidikan dalam rangka melaksanakan tugasnya, tugas profesional, tugas manusiawi, dan tugas kemasyarakatan, apabila diutarakan sekaligus merupakan pengetahuan, pilihan hidup dan praktek komunikasi. Jadi walaupun pengutaraannya berbeda namanya, oleh karena dipandang dari sudut guru dan dan sudut siswa, namun yang diberikan itu adalah nilai yang sama, maka pendidikan tenaga kependidikan pada umumnya dan guru pada khususnya sebagai pembinaan prajabatan, bertitik berat sekaligus dan sama beratnya pada tiga hal, yaitu melatih mahasiswa, calon guru atau calon tenaga kependidikan untuk mampu menjadi guru atau tenaga kependidikan yang baik, khususnya dalam hal ini untuk mampu bagi yang bersangkutan untuk melaksanakan tugas profesional. 

Selanjutnya, pembinaan prajabatan melalui pendidikan guru ini harus mampu mendidik mahasiswa calon guru atau calon tenaga kependidikan untuk menjadi manusia, person (pribadi) dan tidak hanya menjadi teachers (pengajar) atau (pendidik) educator, dan orang ini kita didik untuk menjadi manusia dalam artian menjadi makhluk yang berbudaya. Sebab kebudayaanlah yang membedakan makhluk manusia dengan makhluk hewan. Kita tidak dapat mengatakan bahwa hewan berbudaya, tetapi kita dapat mengatakan bahwa makhluk manusia adalah berbudaya, artinya di sini jelas kalau yang pertama yaitu training menyiapkan orang itu menjadi guru, membuatnya menjadi terpelajar, aspek yang kedua mendidiknya menjadi manusia yang berbudaya, sebab sesudah terpelajar tidak dengan sendininya orang menjadi berbudaya, sebab seorang yang dididik dengan baik tidak dengan sendininya menjadi manusia yang berbudaya. 

Memang lebih mudah membuat manusia itu berbudaya kalau ia terdidik atau terpelajar, akan tetapi orang yang terdidik dan terpelajar tidak dengan sendirinya berbudaya. Maka mengingat pendidikan ini sebagai pembinaan pra jabatan yaitu di satu pihak mempersiapkan mereka untuk menjadi guru dan di lain pihak membuat mereka menjadi manusia dalam artian manusia berbudaya, kiranya perlu dikemukakan mengapa guru itu harus menjadi rnanusia berbudaya. Oleh kanena pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan; jadi pendidikan dapat berfungsi melaksanakan hakikat sebagai bagian dari kebudayaan kalau yang melaksanakannya juga berbudaya. Untuk menyiapkan guru yang juga manusia berbudaya ini tergantung 3 elemen pokok yaitu :
  1. Orang yang disiapkan menjadi guru ini melalui prajabatan (initial training) harus mampu menguasai satu atau beberapa disiplin ilmu yang akan diajarkannya di sekolah melalui jalur pendidikan, paling tidak pendidikan formal. Tidak mungkin seseorang dapat dianggap sebagai guru atau tenaga kependidikan yang baik di satu bidang pengetahuan kalau dia tidak menguasai pengetahuan itu dengan baik. Ini bukan berarti bahwa seseorang yang menguasai ilmu pengetahuan dengan baik dapat menjadi guru yang baik, oleh karena biar bagaimanapun mengajar adalah seni. Tetapi sebaliknya biar bagaimanapun mahirnya orang menguasai seni mengajar (art of teaching), selama ia tidak punya sesuatu yang akan diajarkannya tentu ia tidak akan pantas dianggap menjadi guru.
     
  2. Guru tidak hanya harus menguasai satu atau beberapa disiplin keilmuan yang harus dapat diajarkannya, ia harus juga mendapat pendidikan kebudayaan yang mendasar untuk aspek manusiawinya. Jadi di samping membiasakan mereka untuk mampu menguasai pengetahuan yang dalam, juga membantu mereka untuk dapat menguasai satu dasar kebudayaan yang kuat. Jadi bagi guru-guru juga perlu diberikan dasar pendidikan umum.
     
  3. Pendidikan terhadap guru atau tenaga kependidikan dalam dirinya seharusnya merupakan satu pengantar intelektual dan praktis kearah karir pendidikan yang dalam dirinya (secara ideal kita harus mampu melaksanakannya) meliputi pemagangan. Mengapa perlu pemagangan, karena mengajar seperti juga pekerjaan dokter adalah seni. Sehingga ada istilah yang populer di dalam masyarakat tentang dokter yang bertangan dingin dan dokter yang bertangan panas, padahal ilmu yang diberikan sama. Oleh karena mengajar dan pekerjaan dokter merupakan art (kiat), maka diperlukan pemagangan. Karena art tidak dapat diajarkan adalah teknik mengajar, teknik untuk kedokteran. Segala sesuatu yang kita anggap kiat, begitu dapat diajarkan diakalau menjadi teknik. Akan tetapi kalau kiat ini tidak dapat diajarkan bukan berarti tidak dapat dipelajari. Untuk ini orang harus aktif mempelajarinya dan mempelajari kiat ini harus melalui pemagangan dengan jalan memperhatikan orang itu berhasil dan mengapa orang lain tidak berhasil, mengapa yang satu lebih berhasil, mengapa yang lain kurang berhasil.
PERAN GURU

WF Connell (1972) membedakan tujuh peran seorang guru yaitu (1) pendidik (nurturer), (2) model, (3) pengajar dan pembimbing, (4) pelajar (learner), (5) komunikator terhadap masyarakat setempat, (6) pekerja administrasi, serta (7) kesetiaan terhadap lembaga.

Peran guru sebagai pendidik (nurturer) merupakan peran-peran yang berkaitan dengan tugas-tugas memberi bantuan dan dorongan (supporter), tugas-tugas pengawasan dan pembinaan (supervisor) serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi patuh terhadap aturan-aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat. Tugas-tugas ini berkaitan dengan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak untuk memperoleh pengalaman-pengalaman lebih lanjut seperti penggunaan kesehatan jasmani, bebas dari orang tua, dan orang dewasa yang lain, moralitas tanggungjawab kemasyarakatan, pengetahuan dan keterampilan dasar, persiapan.untuk perkawinan dan hidup berkeluarga, pemilihan jabatan, dan hal-hal yang bersifat personal dan spiritual. Oleh karena itu tugas guru dapat disebut pendidik dan pemeliharaan anak. Guru sebagai penanggung jawab pendisiplinan anak harus mengontrol setiap aktivitas anak-anak agar tingkat laku anak tidak menyimpang dengan norma-norma yang ada.

Peran guru sebagai model atau contoh bagi anak. Setiap anak mengharapkan guru mereka dapat menjadi contoh atau model baginya. Oleh karena itu tingkah laku pendidik baik guru, orang tua atau tokoh-tokoh masyarakat harus sesuai dengan norma-norma yang dianut oleh masyarakat, bangsa dan negara. Karena nilai nilai dasar negara dan bangsa Indonesia adalah Pancasila, maka tingkah laku pendidik harus selalu diresapi oleh nilai-nilai Pancasila.

Peranan guru sebagai pengajar dan pembimbing dalam pengalaman belajar. Setiap guru harus memberikan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman lain di luar fungsi sekolah seperti persiapan perkawinan dan kehidupan keluarga, hasil belajar yang berupa tingkah laku pribadi dan spiritual dan memilih pekerjaan di masyarakat, hasil belajar yang berkaitan dengan tanggurfg jawab sosial tingkah laku sosial anak. Kurikulum harus berisi hal-hal tersebut di atas sehingga anak memiliki pribadi yang sesuai dengan nilai-nilai hidup yang dianut oleh bangsa dan negaranya, mempunyai pengetahuan dan keterampilan dasar untuk hidup dalam masyarakat dan pengetahuan untuk mengembangkan kemampuannya lebih lanjut.
 
Peran guru sebagai pelajar (leamer). Seorang guru dituntut untuk selalu menambah pengetahuan dan keterampilan agar supaya pengetahuan dan keterampilan yang dirnilikinya tidak ketinggalan jaman. Pengetahuan dan keterampilan yang dikuasai tidak hanya terbatas pada pengetahuan yang berkaitan dengan pengembangan tugas profesional, tetapi juga tugas kemasyarakatan maupun tugas kemanusiaan.

Peran guru sebagai setiawan dalam lembaga pendidikan. Seorang guru diharapkan dapat membantu kawannya yang memerlukan bantuan dalam mengembangkan kemampuannya. Bantuan dapat secara langsung melalui pertemuan-pertemuan resmi maupun pertemuan insidental.

Peranan guru sebagai komunikator pembangunan masyarakat. Seorang guru diharapkan dapat berperan aktif dalam pembangunan di segala bidang yang sedang dilakukan. Ia dapat mengembangkan kemampuannya pada bidang-bidang dikuasainya.

Guru sebagai administrator. Seorang guru tidak hanya sebagai pendidik dan pengajar, tetapi juga sebagai administrator pada bidang pendidikan dan pengajaran. Oleh karena itu seorang guru dituntut bekerja secara administrasi teratur. Segala pelaksanaan dalam kaitannya proses belajar mengajar perlu diadministrasikan secara baik. Sebab administrasi yang dikerjakan seperti membuat rencana mengajar, mencatat hasil belajar dan sebagainya merupakan dokumen yang berharga bahwa ia telah melaksanakan tugasnya dengan baik.